Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Asal Usul Desa Golat


Desa Golat  merupakan sebuah desa kecil di kabupaten Ciamis, Kecamatan Panumbangan, terletak di Jawa Barat. Secara geografis Desa Golat dinilai cukup strategis karena menjadi penghubung antara daerah Warudoyong dan Panumbangan. Golat berada di dataran rendah dikelilingi dengan gunung sawal dan menjadi salah satu sumber mata air yang ada di kec.Panumbangan inilah keunikan tersendiri dari desa Golat di bandingkan dengan desa lain yang ada di Warudoyong.
Menurut cerita dari orang-orang di desa tersebut nama Golat asal muasalnya diambil dari nama '5 pendekar jawara atau 5 pendekar silat/ orang sakti. Jadi arti nama Golat adalah '5 pendekar silat/sakti"
Jadi dulu Golat merupakan salah satu wilayah dari kerajaan Majapahit yang diberikan mandat untuk menjaga daerah tersebut adalah daerah orang orang yang bersakti karena Golat daerah strategis. Golat menjadi pos dari kerajaan Majapahit. Konon 5 pendekar silat adalah orang sakti mandraguna karena inilah mereka dipercaya untuk menjaga pos dari kerajaan Majapahit.

Cerita berawal pada suatu ketika daerah Golat sedang terjadi kekeringan yang berkepanjangan, banyak pohon-pohon yang layu bahkan mati karenanya. Terjadinya kekeringan tersebut membuat 5 pendekar silat atau sakti itu turun tangan. Mereka bertapa mencari petunjuk dari Sang Maha kuasa di tempat Sumberan.

Ia mendapatkan wangsit bahwa mereka harus mencabut sebuah pohon jati yang besafr yang ada di sekitar sumberan tersebut. Dengan kesaktian 5 pendekar tersebut pohon jatipun dicabut. Setelah tercabut pohon jati itu mengeluarkan sumber air dari dalam tanah kemudian sumber air temat itu diberinama "cibodas" karena air yang keluar dari pohon jati itu sangatlah bening dan bersih sekali. Kini air yang keluar dari sumber air ddi Golat Cibodas tersebut mengairi ke daerah Golat lainnya juga. Setelah adanya sumber air teserbut yang berawal dari Cibodas, akhirnya daerah Golat menjadi subur kembali setelah lama kekeringan itu melanda daerah tersebut.

Contoh Narrative : Banyuwangi

Sebelumnya saya minta maaf. Karena 2 minggu terakhir tidak ngeposting lagi, karena ya... saya sedang sibuk"nya dengan UPRAK di sekolah (Ujian Prakter). Jadi saya sempatkan kepada kalian semua membagi sebuah cerita (narrative) dalam bahasa inggris. Ini juga adalah contoh dari UPRAK saya di sekolah. Jadi jika kalian juga sedang melaksanakan UPRAK di sekolah dan kalian ditugaskan untuk mencari sebuah cerita (narrative) dalam bahasa inggris. Inilah Contoh "Narrative Banyuwangi"


....

BANYUWANGI

Once upon a time, there reigned in East Java a king named Sindureja. He had aprime minister named Sidapaksa. Sidapaksa had a very beautiful wife.

Sidapaksa loved his wife deeply. They lived in complete happiness. However, Sidapaksa’s mother didn’t like her daughter-in-law. Each day she tried to separate Sidapaksa from his wife.
One day, King Sidureja asked Sidapaksa to seach for the bud of a magic flower on Mount Ijen. It was along and dangerous journey. The assignme Sidapaksa nt from the king was so important and urgent. Sidapaksa had to leave pregnant wive.

Not long afterwards, a son was born. The baby’s give much happiness to young mother.
However, one day, while this young mother was bathing, her evil mother-in-law threw the baby into river. Knowing that her baby had disappeared, the young mother is very sad. She could neither eat nor sleep. She become very ill.

Two year passed and Sidapaksa returned from his journey. He succeeded in doing his mother’s story. Just as he was about to enter his house, her mother told him that his wife had thrown their baby into the river.

Sidapaksa belived his mother’s story. He was too use his common sense. He drew his kris and approached his wife who was lying weak on her bad.

“Ah, wicked woman. Tel me why you threw our new-born child into the river. Tell me!”

“Oh, my deares husband. I am innocent. I love you, and our baby. I didn’t kill our child. If you don’t belive me, carry me to the river. I will prove that I didn’t do it,”

Sidapaksa took her wife to the edge of the river. Suddenly, his wife leaped up and threw her self into the river.

“Oh, my God! How will I know how killed my child?” moaned Sidapaksa.

Then he looked down at the water. Suddenly, two pure white flower-bunds appeared, one larger and taller than the other. A sweet fragrance came from them.

“Sidapaksa, look here! Beside me is our child. He himself willl tell youwho drouned him,” the taller one spoke.

“Father, my mother is innocent. Grandmother threw me into the river. Now I’m happy because my beloved mother has came with me,” the smaller one spoke. Then, the two flowers vanished into the water. They left their fragrance behind.

Since than, people sall the city on its banks of the river Banyuwangi. Banyu means water and wangi means fragrant.


...

Oke mungkin inilah yang dapat saya berikan kepada kalian semua,semoga bermanfaat dan semoga lancar UPRAKnya (Ujian Praktek) Terimakasih. #SalamBlogger

- Copyright © 2013 Exclusive Blog - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Modified by AlamsyahJN